Selasa, 16 September 2008

Kisah Kerbau, Kelelawar, dan Cacing

Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang beberapa hewan. Dan dari kisah ini dapat kita diambil manfaatnya dan menjadi cemin bagi sifat yang manusia sekarang ini. Suatu ketika Malaikat bertanya kepada kerbau yang sedang berada di kubangan lumpur. Maka terjadilah dialog antara Malaikat dan kerbau.

Malaikat : "Hai kerbau,aku akan bertanya kepadamu,Apakah kamu senang diciptakan oleh Allah menjadi kerbau ?”
Kerbau : "Alhamdullillah…….wa syukurrillah………masyaallah……..,ya Aku senang menjadi kerbau."
Malaikat : "Mengapa engkau senang diciptakan menjadi kerbau?"
Kerbau : “Aku senang menjadi kerbau karena derajatku masih lebih baik daripada hewan kelelawar.”
Malaikat : “Bagaimana bisa kau mengatakan seperti itu?”
Kerbau : “Derajatku lebih baik daripada kelelawar karena aku bila mandi masih menggunakan air walaupun air itu kotor yang ada dalam kubangan lumpur sedangkan kelelawar mandi dengan air kencingnya sendiri. Pada saat Kelelawar tidur dengan posisi tidurnya yaitu bergantung diatas atap gua dengan posisi kaki diatas dan posisi badan berada dibawah. Dan disaat tidur itu kelelawar buang air kecil (ngompol), ini berarti air kencingnya yang jatuh kebawah terlebih dahulu melewati dan menyiram seluruh bagian tubuhnya.Ini sama saja dengan mandi dengan air kencingnya sendiri!”

Malaikat pergi meninggalkan kerbau sendirian yang masih berada dalam kubangan Lumpur. Selanjutnya Malaikat segera bergegas mencari hewan kelelawar itu. Lalu sampailah beliau dalam sekumpulan kelelawar. Beliaupun segera bertanya dengan kelelawar tersebut.

Malaikat : "Hai kelelawar,aku akan bertanya kepadamu,Apakah kamu senang diciptakan oleh Allah menjadi kelelawar ?”
Kelelawar : "Alhamdullillah…….wa syukurrillah………masyaallah……..,ya Aku senang menjadi kelelawar."
Malaikat : "Mengapa engkau senang diciptakan menjadi kelelawar?"
Kelelawar : “Aku senang menjadi kelelawar karena derajatku masih lebih baik daripada hewan cacing.”
Malaikat : “Bagaimana bisa kau mengatakan seperti itu?”
Kelelawar : “Derajatku masih lebih baik daripada cacing karena aku masih diberikan sepasang sayap oleh Allah sehingga aku bisa terbang kemanapun yang aku mau walaupun hanya malam hari,sedangkan cacing bila dia akan pergi ke suatu tempat dia harus berjalan dengan menggunakan perutnya!”

Dengan kebingungannya, Malaikat segera pergi untuk mencari hewan cacing dan meninggalkan sekumpulan kelelawar itu. Setelah beliau berputar-putar mencari hewan cacing, akhirnya Malaikat menemukan hewan cacing itu. Tanpa basa-basi beliau segera menanyakan hal yang sama dengan kedua hewan sebelumnya yaitu kerbau dan cacing tadi.

Malaikat : "Hai kerbau,aku akan bertanya kepadamu,Apakah kamu senang diciptakan oleh Allah menjadi cacing ?”
Cacing : "Alhamdullillah…….wa syukurrillah………masyaallah……..,ya Aku senang menjadi cacing."
Malaikat : "Mengapa engkau senang diciptakan menjadi cacing?"
Cacing : “Aku lebih senang diciptakan menjadi cacing daripada harus diciptakan menjadi manusia.”
Malaikat : “Bagaimana bisa kau mengatakan seperti itu?”
Cacing : “ Aku lebih senang diciptakan oleh sang Khalik menjadi seekor cacing yang berjalan dengan perut daripada harus diciptakan menjadi manusia karena kebanyakan manusia tidak memiliki iman dan amal shaleh sehingga derajatnya lebih rendah dari seekor cacing ”.

Mendengar jawaban dari cacing itu maka, Malaikatpun segera pergi dengan kepuasan didalam hati dan pikirannya.

Dari kisah ini dapat diambil hikmahnya yaitu suatu kesadaran untuk bersyukur. Ketiga hewan diatas dapat dijadikan contoh/suritauladan bagi manusia lainnya. Kerbau, kelelawar,dan cacing adalah hewan yang tidak mempunyai akal pikran namun mereka semua sadar bahwa mereka harus bersyukur kepada Allah dengan semua yang diberikan kepadanya. Karena sesuatu yang diberikan Allah kepada kita yang kita anggap sebagai kekurangan bisa menjadi sebuah kelebihan bila kita bisa mensyukurinya. Siapa tahu kekurangan kita itu bisa menjadi suatu kelebihan bagi makhluk lainnya.
Lalu yang jadi pertanyaan, mengapa manusia yang diberikan akal pikiran tidak bisa bersyukur atas semua nikmat yang diberikan oleh Sang Khalik?. Banyak manusia yang tidak sadar dengan semua nikmat yang diberikan oleh-Nya .
Derajat manusia bisa lebih rendah dari binatang bila dia tidak mempunyai iman dan amal shaleh

Coba sekarang kita renungkan bersama,lalu sekarang kita belajar dari kerbau, kelelawar, dan cacing untuk bersyukur kepada Allah. Lalu setelah kita belajar, kita coba juga untuk mengamalkanya yaitu untuk mensyukuri semua nikmat dari Sang Khalik.

Insyaallah kita coba…ya…!!!. Semangat ……..!!!!!!!

Jumat, 29 Agustus 2008

perdana

Besi itu kuat, tetapi api dapat melelehkannya. Api itu kuat, tetapi air mampu memadamkannya. Air itu kuat, tetapi matahari bisa mengalahkannya. Matahari itu kuat, tetapi awan dapat menghalanginya. Awan itu kuat, tetapi angin mampu memindahkannya. Angin itu kuat, tetapi manusia mampu menahannya. Manusia itu kuat, tetapi ketakutan bisa melemahkannya. Ketakutan itu kuat, tetapi tidur bisa mengatasinya. Tidur itu kuat, tetapi mati ternyata lebih kuat. Yang terkuat adalah kebaikan, ia takkan hilang setelah mati.

Miskin kaya susah senang ada di mana - mana Orang desa orang kota kita semua sama Miskin kaya susah senang ada di mana - mana Orang desa orang kota kita semua sama Biar rambut sama hitam tapi hati kita berbeza Walau muda walau tua yang beda hanyalah takwa Miskin kaya susah senang ada di mana - mana Orang desa orang kota kita semua sama Tiada ada diantara kita yang kekal selamanya semua yang kita nikmati hanyalah sementara Yang cantik akan pudar yang muda akan tua harta - harta akan ditinggalkan yang dibawa hanyalah amalan Miskin kaya susah senang ada di mana - mana Orang desa orang kota kita semua sama

Walau didunia kita senang tetapi di akhirat belum tentu didunia ini tempat ini tempat beramal untuk selamat di akhirat didunia ini tempat ini tempat beramal ]untuk selamat di akhirat (Kita Sama Album : Demi Masa Munsyid : Raihan)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu : Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malm yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa'." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)